Oleh Agus Sopian
Ketegangan dan daya pikat seperti apa yang kita harapkan dari sebuah cerita tentang pelarian tujuh pria dan tiga wanita demi mempertahankan hidup? Kota mereka telah menjadi sarang wabah. Tikus-tikus hitam mengambil alih kekuasaan dan tak bisa dihadapi oleh para ksatria mana pun yang baru saja pulang dari Perang Seratus Tahun, sebuah perang besar yang memporak-porandakan Inggris dan Prancis.
The Decameron, karya Giovanni Boccaccio, itu memang bukankah sebuah fiksi biasa, yang dirangkai dari lamunan-lamunan, dari semata kumpulan kata terpilih untuk memberi efek tragisme dan fatalisme. Cerita datang dari realitas sosial pada masa itu, dan Boccaccio bahkan berada di tengah-tengahnya, di jantung kota Florence yang sedang sekarat.
Di tahun 1348 itu, Florence bukan satu-satunya kota yang sedang dilanda prahara. Hampir seluruh area pesisir Laut Hitam, dari Siprus sampai Tunisia, sama menderitanya. Dunia mengingatnya sebagai serangan Black Death.
Dari pesisir Laut Hitam, serangan menjalar cepat ke Portugal, menerobos Inggris, Swedia dan hampir seluruh kawasan Eropa Utara. Di Norwegia, tikus-tikus hitam tak punya kekuasaan, tetapi tikus-tikus coklat yang lebih besar, sang Rattusnorvegicus, tak kurang ganasnya.
Empat tahun setelah tragisme Florence, Black Death sudah menjangkau sebagian wilayah Rusia, dan ini berarti separuh besar Eropa telah tersapu wabah. Eropa melenguh dan menjerit kesakitan. Orang-orang mati karena pes, radang akut saluran pernafasan dan keracunan darah. Para ahli sejarah menyebutkan, dalam peristiwa itu sekira 25 juta orang mati sia-sia, dan banyak kota terpaksa dijadikan abu. Di masa itu, angka 25 juta bukanlah jumlah yang sedikit. Ini sekurang-kurangnya mengartikulasikan sepertiga penduduk Eropa.
Dari mana datangnya bencana hebat ini? Debat yang melibatkan berbagai disiplin – sejak ilmu sejarah, kedokteran, politik hingga filsafat– belum lagi usai hingga kini. Banyak yang mengatakan, bahwa wabah itu berasal dari India. Tapi, lebih banyak lagi yang bertahan pada pendapat bahwa wabah sesungguhnya datang dari Mongolia, terutama dari serdadu yang terus bergerak ke daerah barat untuk meluaskan wilayah kekaisaran. Di setiap daerah yang diserbunya, mereka berurusan dengan bangkai mayat dan kematian. Dan bukan hal yang tak mungkin, sebagian mikroorganisme dari si mati hinggap di tubuh-tubuh para serdadu, yang bergerak dan terus bergerak hingga melewati India, Persia, dan seterusnya.
Mikroorganisma kemudian merayap melalui jalur perdagangan sutra dan porselen, ikut berlayar hingga Laut Hitam. Saat turun dari kapal-kapal dagang, bakteri-bakteri dan virus penyakit itu berubah menjadi monster pembunuh paling mengerikan dalam sejarah Eropa, yang secara telak melahirkan ketidak-berdayaan. Komunitas politik Eropa lumpuh total. Raja-raja tak lagi didengar sabdanya. Kekuasaan gereja yang begitu kuatnya, kini terkulai. Di pojok-pojok negeri, orang berkerumun, saling menyumpah, menggelar rapat-rapat gelap, dan tiba saatnya melancarkan pemberontakan. Maka, wabah baru pun datang di pelbagai negeri Eropa. Wabah pemberontakan.
Dan bukan fiksi, rakyat yang tak puas oleh pelayanan negara dan gereja di Italia mengangkat senjata dan bergabung dengan pemberontak Ciompi. Di Prancis, muncul De Jacquerie. Lalu di Inggris, rakyat merapat pada pemberontak The English Peasant Revolt. Klimaksnya, Eropa mengalami reformasi besar-besaran dan Abad Tengah, penanda masa kegelapan Eropa, itu berakhir sudah. Renaisans dimulai. Orang belajar kimia, ilmu kedokteran, dan membuka kembali literatur-literatur dari kebudayaan Helenik, Romawi hingga Islam.
Lintasan diakhronis tadi memunculkan godaan dalam diri untuk bertanya, di manakah posisi Aceh kini yang sedang tertimpa bencana, dan bukan tak mungkin dijangkiti wabah penyakit seiring kematian massal dan buruknya sanitasi hari ini? Apakah Aceh wajah lain dari India atau Mongolia atau justru Eropa Abad Tengah yang kesakitan itu?
Apapun yang peran dimainkan Aceh, kematian massal di sana bisa melahirkan banyak kemungkinan yang menantang keterbatasan akal-budi kita. Membiarkan Aceh tetap porak-poranda, barangkali sama artinya dengan membuka jalan lebar-lebar bagi datangnya Black Death baru – yang belum tentu diikuti “renainsans” dan reformasi baru.
Sejarah memang punya repetisi sendiri, tapi sejarah juga menunjukkan bahwa wabah dan rasa sakit luar biasa tak selalu melahirkan perubahan sosial yang lebih baik. Kekaisaran Mongolia, Babilonia, Macedonia, Mongolia, juga Kerajaan Islam Abbasyiah adalah contoh-contohnya. Mereka punah dengan membawa deritanya sendiri-sendiri ke liang lahat sejarah. [end]
Gatra, 12 Februari 2005