Oleh Agus Sopian
KOLONIAL Belanda sedang jatuh cinta pada tanah Priangan. Maka, sehabis membuat perkebunan pada paro kedua abad ke-19, mereka merancang wilayah pemukiman. Bandung dibangun, dan pengaturannya diserahkan kepada dua penggede.
Wilayah terluas, berisikan kaum pribumi, diatur oleh bupati. Wilayah paling kecil -- tepat berada di tengah-tengah pusat Bandung -- yang dihuni oleh orang-orang Eropa dan “Timur Asing”, diurus langsung oleh asisten residen yang berkedudukan di Cianjur.
Di tahun 1906, di masa Asisten Residen Pieter Sijthoff, wilayah elit tadi ditetapkan sebagai Gemeente (kotapraja) pada 1906. Pembangunan kota digenjot. Untuk keperluan tataruang, Sijthoff memesan gambar langsung dari Eropa. Konsep Indische Koloniaale Stad atau lazim dikenal sebagai Tropische Stad (Kota Tropis) dijalankan secara detil. Planolog cum sejarawan kota Bandung, Harry Haryoto Kunto, menilai, secara umum Tropische Stad memiliki wajah yang mirip konsep Garden City, sebagaimana dikembangkan London atau Moskow.
Konsep itu intinya menempatkan pusat kota di tengah-tengah yang dikelilingi oleh lapis-lapis wilayah. Lapisan pertama yang mengelilingi pusat kota adalah jalur hijau yang membentuk bulevar, sedang lapisan berikutnya adalah sabuk hijau berupa lahan pertanian dan daerah hunian.
Sijthoff hanya perlu waktu sepuluh tahun saja untuk memodernisasi Bandung hingga nyaris setara dengan kota-kota Eropa. Bandung bahkan sempat dijuluki Parisj van Java lantaran keindahan taman-tamannya. Julukan ini menempatkan Bandung sebagai salah satu daerah tujuan wisata paling eksotik di Asia Pasifik.
Haryoto Kunto menemukan catatan-catatan menarik yang berisikan identitas wisatawan-wisatawan yang pernah mengunjungi Bandung dalam kurun 1914-1938. Mereka tak hanya pengusaha-pengusaha yang kelebihan duit, tapi juga artis, budayawan, ilmuwan dan negarawan. Beberapa di antara mereka, menurut Haryoto Kunto, adalah musikus Godowsky, Vera Janacopoulus, Arthur Zimbalist, Paul Weingarten, dan lainnya. Nama lain adalah Putra Mahkota Belgia dan Thailand. Perdana Menteri Prancis, George Clemenceau, juga pernah menginjakkan kaki di Bandung dan terpukau oleh keindahan alam Priangan. Nama lain yang tak kurang populernya adalah artis Paulette Goddard dan Charlie Chaplin.
Kehadiran mereka segera memperkuat posisi Bandung sebagai daerah wisata yang paling diincar. Seumumnya daerah wisata, semua bisnis, termasuk jasa, berkembang secara akseleratif. Sirkulasi kehidupan Bandung berjalan selama 24 jam penuh. Siang dan malam nyaris tiada beda.
Perkembangan wisata yang demikian pesat memerlukan daya dukung sumber daya. Perencanaan wilayah kembali disusun, yang dituangkan ke dalam konsep tataruang Kampong Verbetering. Pemukiman ala Kampong Verbetering dimaksudkan untuk menyangga kebutuhan orang-orang Eropa yang menghuni kawasan Europeesche Zakenwijk di pusat inti kota.
Astanaanyar, Gempol dan Ciateul masuk ke dalam paket pemukiman pertama untuk pribumi di dalam kota. Belakangan, nama yang disebut pertama jauh lebih cepat berkembang. Lebih-lebih sejak Bandung ditetapkan sebagai salah satu pusat promosi dunia, berupa pesta tahunan yang dinamai Jaarbeurs (Bursa Tahunan) – yang digelar saban bulan Juni dan Juli. Pesta ini memamerkan rupa-rupa produk industri dan kerajinan, selain atraksi wisata, dalam skala internasional.
Tetamu yang datang dari luar Bandung, hampir bisa dipastikan melewati Astanaanyar untuk sampai ke pusat Jaarbeurs di lapangan Tegallega. Lapangan itu sendiri adalah halaman muka Astanaanyar. Bisnis seks di poros Tegallega – Astanaanyar – Stasiun Hall, bisa dipahami ikut semarak, dengan Saritem sebagai lokomotifnya.
Sekira seratus tahun Saritem bertahan dalam jelajah waktu yang tak pernah bersurut balik. Taksiran perputaran uang di Saritem menurut data terakhir mencapai ratusan juta rupiah per hari.
Buat sebagian PSK, Saritem ibarat sebuah universitas besar. Di sana, mereka dimungkinkan dapat bertukar referensi perihal layanan seks, yang dapat mereka gunakan untuk menjangkau mimpi-mimpinya di kota-kota lain yang lebih menjanjikan berkah uang.
Bisa dipahami kalau alumni Saritem tersebar di berbagai kota di Indonesia, dari kelas ecek-ecek hingga hotel-hotel megah. Di Jakarta, misalkan, alumnus Saritem dapat ditemui di kawasan bisnis seks Mangga Besar atau Hayam Wuruk. Juga di Batam, bahkan sampai Timika, terutama di kawasan pelesiran terbesar di sana, Kilometer 10. Tak hanya pusat bisnis seks yang berada di lokalisasi, tapi juga tempat-tempat prostitusi yang menyaru bar, tempat clubbing, spa atau karaoke.
Sebagai lahan prostitusi, Saritem pada akhirnya tak hanya dikenal tetamu domestik Bandung semata, tetapi juga daerah-daerah lain. Mereka datang dari berbagai lapisan sosial, tak terkecuali eksekutif dan pengusaha dari macam-macam kelas sosial. Londo-londo pun terkadang nyasar ke sana, menyelami fantasi seks Saritem yang layanannya dianggap paling spektakuler di Indonesia. Dikatakan spektakuler lantaran pelbagai sensasi bercinta ala film-film biru bisa didapatkan di sana.
Mereka, para bule itu, kemungkinan saling bertukar informasi melalui situs World Sex Guide, yang agresif meresensi kawasan bisnis seks di seluruh dunia. Belum lagi perputaran informasi melalui milis dan email pribadi. Pendeknya, bagi mereka, Saritem menjadi bagian terbesar dari daya tarik eksotisme wisata Bandung.
***
Saritem terletak di jantung kota Bandung, di bawah administrasi Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir. Areal Saritem diapit oleh empat jalan besar di semua penjuru angin. Sebelah selatan Jalan Sudirman, utara Jalan Kebon Jati, barat Jalan Kelenteng, dan timur Jalan Gardujati.
Lebuh yang disebut paling akhir adalah akses termudah menuju Saritem, dengan melewati suatu percabangan jalan. Tepat di muka ruas menuju perkampungan Saritem, terdapat sebuah papan nama besar dalam latar warna hijau tua. Tertulis di situ ”Pondok Pesantren Dar Al -Taubah”.
Hari merembang petang ketika sampai di sana, pertengahan April 2007 lalu. Sebuah gang sempit tak jauh dari kantor polisi sektor Saritem, jadi pilihan. Ini lorong tercepat menuju episentrum kawasan rumah pelesiran papan atas. Salah satunya milik keluarga Bokbok, yang sampai lima tahun ke belakang nyaris tanpa saingan. Ada belasan kamar di sana. Semuanya dilengkapi kamar mandi di dalam, kaca besar di dinding ruangan, dan ranjang ukuran nomor satu.
Bokbok telah tiada. Pasca kepergiannya, rumah tersebut jatuh ke tangan Dede Jawara, pengusaha yang sedang berbintang terang di sana. Dede mendapatkannya dengan menyewa Rp 20 juta per bulan dari ahli waris Bokbok.
Tak mudah bagi Dede untuk mengangkat kembali pamor rumah pelesiran itu. Persaingan makin ketat. Bangunan-bangunan yang lebih mentereng telah lama mengepungnya. Di sebelah kanan, sekurang-kurangnya berdiri rumah pelesiran tiga lantai milik Aang. Di kiri, berdiri rumah pelesiran milik Leo, yang juga bersusun tiga lantai.
Rumah pelesiran Leo jadi magnet baru begitu tuntas renovasinya, sekira dua tahun lalu. Leo melakukan sejumlah inovasi mendasar. Seluruh kamar dikelilingi kaca cermin, ranjang empuk dan ornamen lampu tidur yang redup. Di lantai teratas, seluruh kamar bahkan dipasangi pendingin udara, pesawat televisi 21 inci, kamar mandi air panas dengan bath tub dari porselen. Di hari-hari tertentu, Sabtu atau Minggu, kamar-kamar itu jadi favorit pengunjung. Orang rela menunggu setengah sampai satu jam demi mendapatkannya.
Kamar-kamar di rumah pelesiran Leo menghapus citra lama Saritem yang kumuh. Sampai dasawarsa 1980-an, tipikal kamar-kamar di rumah pelesiran Saritem memang tak jauh beranjak dari gambaran petak-petak kecil, yang sebagian di antaranya berdinding tripleks, dengan ranjang kecil, lap dan ember air. Pendeknya, kalau bukan petualang seks, orang mikir dua kali untuk datang ke sana.
Kawasan merah Saritem berada di dua RW. Masnu, ketua RW 09, mengungkapkan, data terakhir PSK di daerahnya berjumlah 289 orang. Di RW 07 berjumlah 162 orang.
PSK Saritem kebanyakan berasal dari daerah luar Bandung, utamanya dari Kuningan, Majalengka, Subang, dan Indramayu. Dua yang disebut terakhir menempati peringkat tertinggi dalam daftar penyumbang PSK terbanyak. Kantong-kantong PSK Saritem asal Subang umumnya berada di sekitar Pusakanegara dan kampung-kampung miskin yang berbatasan dengan Indramayu. Sedangkan di Indramayu, populasi terbanyak berada di Bongas, Kroya, Anjatan, Sukra, Kandanghaur, Gabuswetan, dan Haurgeulis.
Sekalipun banyak PSK yang datang dari desa-desa terpencil, raut-raut wajah mereka tak jelek-jelek amat. Banyak dari mereka, setelah mendapat polesan salon, bagai pinang dibelah dua dengan gadis model di tabloid-tabloid syur, atau artis sinetron cerita silat. Noni, misalkan, berparas di antara Nafa Urbach dan Mona Ratuliu. Ia salah satu kembang Saritem, dan mendapat incaran banyak tamu. Tarif Noni berkisar Rp 200 ribu per sekali kencan.
Yani juga punya paras yang tak kalah menawannya. Ia berada dalam irisan wajah Ria Irawan dan Cece Kirani. Rambutnya panjang melewati bahu. Tubuhnya jangkung, mungkin mencapai 170 cm. Ia terbilang target sukar. Ada banyak orang yang ngantri pada PSK sensual itu, yang senantiasa hadir dalam dandanan modis. Tarifnya sama dengan Noni. Untuk booking luar, Yani bisa membandrol dirinya minimal satu juta rupiah. Kalo lagi ogah-ogahan, ia bisa mengenakan tarif Rp 1,5 juta ke atas.
Untuk keperluan booking luar, ada banyak hotel di luar Saritem yang bisa digunakan sebagai akomodasi jam-jaman, dengan tarif murah-meriah. Yang terdekat sebut saja Hotel Trio, Hotel Citra, Hotel Palem atau King Garden Hotel. Hotel Palem, yang terbilang paling populer di kalangan pelanggan Saritem, tarif per malam dimulai dari harga Rp 75 ribu.
Booking luar adalah berkah bagi banyak PSK hingga penghasilan mereka bisa berlipat ganda. Tapi, sekalipun tanpa berkah semacam itu, penghasilan reguler PSK sekelas Noni atau Yani tetap saja spektakuler untuk ukuran orang kebanyakan.
Sekadar gambaran, seandainya per hari mereka mendapat lima tamu saja, uang yang didapat adalah 200.000 x 5 = sejuta rupiah. Setelah dipotong si mami atau papi 50 persen dan calo 10 persen, per harinya Yani mengantongi nilai bersih Rp 400 ribu. Ini belum termasuk tips dari tamu. Sebulan, dengan asumsi kerja 20 hari, setelah dikurangi waktu datang bulan, mereka memiliki potensi untuk mendapatkan Rp 8 juta. Ditambah tips dari para tamu, penghasilan mereka bisa mencapai Rp 10 – 12 juta per bulan. Itu jika mereka mendapat tamu dalam kuantitas yang konsisten, dalam rentang kerja mulai pukul 11.00 hingga 23.30.
Mudah dipahami Yani hidup berkecukupan di kampungnya. Ada rumah mentereng, mobil, juga beberapa toko, termasuk apotik.
Hal yang sama juga berlaku pada Risa. Hidupnya berubah setelah memutuskan Saritem jadi lapaknya untuk menjual tubuh. Dari rejeki Saritem, ia kini sudah dapat membangun rumah mentereng di pinggiran kota Bandung. Ekonomi seluruh keluarga terdekatnya berada dalam tanggung jawabnya.
Dari rumahnya, Risa pergi ke Saritem saban siang dengan menyetir sendiri. Penampilan yang kalem, wajah bersih, kulit langsat, siapa sangka ia PSK. Tutur katanya pun menghanyutkan, dan sama sekali tak mengesankan ia penjaja seks di Saritem.
Tak semua PSK Saritem memiliki daya saing macam Risa, Yani atau Noni. Ada ratusan PSK lain yang harus bergulat dengan nasib jelek. Tak hanya dengan sesama PSK Saritem, tapi juga dengan PSK-PSK lain di luar Saritem, baik mereka yang bekerja rumah pelesiran yang menyaru jadi panti pijat, tempat sauna atau spa maupun rumah-rumah bordil seperti di Jalan Dokter Cipto, Jalan Bahureksa atau sekitar terminal Kebon Kalapa. PSK Saritem pun terkadang harus head to head dengan perempuan-perempuan penjual tubuh dari kalangan kampus, sales promotion girl, juga karyawan-karyawan pemasar alat kecantikan dan kosmetik tertentu.
Di antara mereka, panti pijat boleh jadi pesaing terberat. Panti pijat model ini banyak tersebar di hampir semua pelosok kota Bandung. Populasi terbanyak terdapat di Jalan Cibadak dan Dalem Kaum.
PSK yang berlindung di balik panti pijat, selain bertarif hampir seimbang dengan PSK Saritem, layanan seks mereka pun kian canggih. Panti pijat Prameswari di Jalan Gardu Jati, Cempaka dan Citra di Cibadak, adalah beberapa di antaranya yang disebut-sebut dapat memberikan layanan seks sekelas Saritem. Nilai kompetitif mereka, juga dikontribusi oleh akses yang mudah ditempuh dari segala jurusan dan semua angkutan umum.
Satu-satunya kode pertahanan mereka adalah sistem layanan sepanjang waktu. Mereka yang sudah menyelami kehidupan Saritem hingga ke dasarnya, tahu di mana mendapatkan layanan seks sembarang waktu. Bagi mereka, Saritem adalah toserba seks 24 jam.
Sebagian mucikari memang memberikan keluasan waktu sepanjang itu demi mempertahankan periuknya dari persaingan yang makin keras. Alhasil, tamu yang datang subuh sekalipun, dapat dipastikan akan mendapatkan layanan yang memadai. Para mami atau papi cukup membangunkan tidur anak asuhnya. Meski bersungut-sungut, mereka mengerti betul kode etik di Saritem: “Kami melayani Anda kapan saja, di mana saja.”
***
Di tepian rumah pelesiran milik, calo-calo – yang galib dikenal dengan sebutan “PHB” alias penghubung – berkerumun menunggu tetamu. Beberapa wajah saya kenal. Mereka umumnya pemain-pemain lama. Salah satu dari mereka saya beri isyarat agar ikut masuk ke dalam rumah pelesiran Bokbok.
Melewati kasir, kaki melangkah menuju sebuah koridor. Beberapa kamar yang terlewati, tampak tak berpenghuni. Sebagian di antaranya sedang dirapikan oleh tukang bersih-bersih. Tiba di ruang tamu, keadaan benar-benar sepi. Seluruh kursi yang tersedia, bebas dari pantat. Saya memilih duduk di sebuah sudut, di sayap kiri bangunan, yang tepat menghadap gang sempit. Sejumlah PSK hilir-mudik di sana dalam dandanan minimalis.
Belum semenit, sesosok wajah perempuan muncul dari balik pintu kamar. “Oojiiii...cap!" ia berteriak. Seorang tukang bersih-bersih yang baru saja berpapasan meneruskan teriakan itu, “Kondom…kondom.” Selang beberapa menit, orang yang dipanggil Oji setengah berlari menuju kamar asal suara. Pelan ia mengetuk pintu. Dua bungkus kondom dalam genggamannya segera berpindah tangan begitu pintu terkuak.
Ruangan kembali sepi.
“Orang pada takut ke sini sekarang. Semua sepi,” kata Hengki, seorang calo yang sudah 17 tahun bekerja di Saritem. Hari itu tampaknya memang bukan saat yang tepat berada di Saritem. Aura ketakutan telah menyebar ke seantero Saritem. Mereka diancam akan dirazia oleh tim gabungan yang terdiri atas polisi pamong praja, tentara, dan aparat terkait lainnya. Langkah-langkah koordinatif mereka setiap hari muncul di koran-koran terbitan Bandung.
Kebijakan untuk merazia Saritem berasal dari Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan. Perda ini berlaku efektif sejak 1 November 2006. Bulan Maret 2007 adalah batas tenggat bagi Saritem untuk menghentikan kegiatannya. Dua pekan telah lewat, perang dingin mulai berlangsung.
”Sebagai kelompok mayoritas, kita bisa mengalahkan kelompok kecil. Tentunya umat Islam harus memiliki sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama, sehingga tampil sebagai pemenang,” kata Walikota Dada Rosada di depan peserta dialog publik ”Menggagas Bandung Bebas dari Maksiat”, di Masjid Raya Bandung. Acara tersebut sekaligus diisi deklarasi deklarasi pendirian Bandung Maksiat Watch (BMW), yang diketuai Asep Syarifudin. ”Kami sudah menyiapkan mujahid,” Syarifudin menggenapi ucapan Rosada.
Pernyataan mereka dikutip sejumlah media massa di Bandung, awal April 2007. Orang-orang di Saritem yang membacanya karuan saja ketar-ketir. Saritem tegang. Pengunjung menurun drastis.
“Neni, kamu kenapa masih di sini,” tanya saya pada seorang PSK yang tadi berteriak-teriak minta kondom. Ia baru saja usai melayani tamunya. Tak terlihat tanda-tanda lelah di wajahnya.
“Emangnya kenapa?”
“Gak baca koran ya? Mau dirazia? Saritem katanya mau ditutup. Orang-orang di luar sana sudah siap perang.”
“Iyyy…capppe deeeh. Ayo kita perang. Tapi…di ranjang.” Ia melenggang keluar, melewati kerumunan calo dan tangan-tangan iseng yang berebut menepuk pantatnya.
Tak semua PSK bermental baja seperti Neni. Banyak diantara mereka yang memilih meninggalkan Saritem selekasnya. Mereka tak mau nasibnya berakhir di ujung pengaturan paksa aparat keamanan. Mereka ingin menentukan nasib sendiri: pulang ke kampung halaman, pergi ke kota lain, atau sekedar kos di daerah sekitar menunggu situasi normal. Eksodus dimulai sejak awal April 2007.
***
Usaha untuk menutup Saritem bukan cerita kemarin sore. Berkali-kali mereka melakukan razia, namun selang beberapa hari kemudian Saritem kembali beroperasi. Begitu seterusnya, hingga di awal tahun 2000 pemerintah setempat memutuskan untuk menggalang ulama yang bisa diajak kerjasama. Salah satu solusi adalah mendirikan pesantren untuk “mengurangi jumlah PSK secara alami”. Kalangan pesantren diminta mendekati mereka demi menanamkan keyakinan bahwa jalan hidup yang mereka pilih bukan jalan yang benar.
Pesantren itu bernama Daar At Taubah Bandung, yang berdiri di atas lahan seluas 600 meter persegi. Data terakhir mengungkapkan, santri yang belajar di sana jumlahnya mencapai lebih dari 150 kepala. Dari jumlah sebanyak ini, mereka yang tinggal di pondok mencapai 60 orang. Santri nonmukim merupakan santri yang berasal dari daerah sekitar Saritem, yang jumlahnya berkisar 80-90 orang.
Kepada berbagai media massa, KH Ahmad Haedar, Ketua Harian Daar At Taubah, berkali-kali mengatakan bahwa pesantrennya memang dimaksudkan untuk mengubah citra kawasan lokalisasi Saritem. ''Lembaga pendidikan keagamaan ini mempunyai visi dan misi yakni memberikan pelayanan dengan cara pembinaan kerohanian. Baik itu untuk warga asal Saritem, maupun warga pendatang.”
Haedar mengatakan, sejak pesantren didirikan populasi penggiat seks di Saritem telah menurun hingga 40 persen. Klaim senada disampaikan juga oleh Dada Rosada. Menurut dia, jumlah PSK di Saritem kini hanya tinggal 144 orang. Penurunan berlangsung secara berkala, dari 660 orang di tahun 2000 lalu menjadi 400 orang lebih pada tiga tahun setelahnya.
Tak jelas dari mana Rosada memperoleh data itu. Masnu dan Yayan Kristian, masing-masing ketua RW 07 dan 09, yang menjadi pusat kegiatan prostitusi, mengkonstatasi bahwa jumlah PSK di sana masih berkisar 400 orang lebih. Jumlah yang fluktuatif menurut mereka hal biasa. Pernyataan yang sama juga sempat terlontar dari Homing, seorang pemuka masyarakat di sana. Katanya, Saritem adalah tempat terbuka. Orang boleh keluar-masuk kapan waktu. Bisa dipahami kalau suatu saat jumlah PSK meninggi, di saat lain justru menurun jumlahnya.
Namun, seandainya saja versi pemerintah setempat benar, razia yang menyebarkan rasa takut di kalangan warga sana, jelas tak perlu ada. Dada Rosada dan koleganya di berbagai instansi dan lembaga kemasyarakatan hanya tinggal melanjutkan program yang diyakini telah menurunkan jumlah mereka secara signifikan. Untuk lebih fantastis, mereka bisa saja menjalankan program secara lebih intensif lagi. Apa boleh buat, saran macam itu tak pernah populer di kalangan aparat pemerintah setempat. Mereka tetap keukeuh untuk melakukan razia guna menghentikan secara total kegiatan Saritem.
Kontroversi penghentian paksa operasi Saritem terus berlangsung. Anggota legislatif di kota Bandung, Kusmeni S Hartadi, menyarankan agar pemerintah setempat mengambil langkah yang lebih populis dan humanis. "Harus ada nilai tawar antara pemerintah dan masyarakat,” katanya.
Warga Saritem sendiri, yang telah terkumpul keberaniannya untuk mengatakan “tidak”, mulai berkomentar. Beberapa di antaranya mengecam langkah itu. Wawan Karyawan, Lurah Kebonjeruk, payung administratif Saritem, berusaha memposisikan diri di tengah sambil sesekali mengingatkan sejawatnya agar mempertimbangkan kembali rencana penutupan langsung. Ia mengatakan, ada banyak warga yang menggantungkan hidupnya kepada usaha prostitusi di Saritem. Mereka perlu mendapat perhatian. Jumlah mereka berkisar 1.000 orang, yang bekerja pada berbagai bidang, mulai pengelola kamar, calo, tukang parkir, pedagang, tukang kredit, dan sebagainya.
Suara Wawan tenggelam dalam semangat besar untuk menutup Saritem. Sejak batas tenggat terlewati, pernyataan paling bersemangat datang dari Priana Wirasaputra, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung. “Kali ini tidak ada lagi peringatan-peringatan. Langsung tutup dan tangkap,” ujar Priana dengan nada tinggi. Pernyataan merebak di sejumlah media dan langsung membuat Saritem tegang. Frasa “tangkap” ditujukan kepada germo, calo, PSK, yang coba-coba menghalangi langkahnya. Priana tak mau kompromi.
Persiapan untuk merazia Saritem dipersiapkan secara serius. Berbagai organisasi keagamaan mereka hubungi, dengan BMW sebagai garda terdepan.
Tim Gabungan terbentuk, yang melibatkan 1.171 personel. Mereka terdiri atas 499 polisi pamong praja dan aparat dinas terkait dari pemerintah kota Bandung, 125 anggota TNI, 367 anggota polisi. Dari organisasi kemasyarakatan datang bantuan sebanyak 180 orang. Selain BMW, mereka antara lain terdiri atas Front Pembela Islam (FPI), dan santri dari Pesantren Dar Al-Taubah.
Beberapa nama populer di kalangan Saritem telah mereka catat, dan dijadikan sasaran utama. Beberapa nama yang sempat menyebar adalah Homing, Aang dan Dede Jawara, yang kebetulan sedang bersinar di Saritem. Terhadap mereka, aparat polisi telah menyiapkan jerat hukumnya. Mereka terancam undang-undang yang menyoal perdagangan perempuan.
Ketegangan meningkat. Warga menyambut rencana mereka dengan serangkaian unjukrasa. Ratusan orang tumpah ruah ke Jalan Gardu Jati untuk mengecam rencana tersebut. Mereka menuntut kejelasan solusi dari pemerintah setempat. Mereka bahkan menilai, penutupan lokalisasi hanya ajang untuk mencari popularitas, selain karena kepentingan-kepentingan tertentu.
Para pengunjuk rasa juga mencibiri pemerintah setempat yang hendak mendatangkan ribuan petugas untuk merazia mereka. Menurut mereka, jumlah sebanyak itu sebaiknya digunakan untuk mencari sarang teroris, yang jelas-jelas telah mengganggu ketenangan dalam skala yang luas. ”Kami juga manusia. Saritem bukan kampung teroris,” seorang pengunjuk rasa berteriak yang disambut yel-yel.
Di titik paling ekstrem, mereka mengancam tak bertanggung-jawab pada situasi pascapenutupan. Menurut mereka, bukan tak mungkin angka kriminalitas di Bandung akan makin meninggi sehubungan makin berbiaknya jumlah pengangguran, termasuk mereka yang berasal dari Saritem.
Teriakan mereka rupanya tak mengubah keadaan. Mereka telah berada di bibir jurang kekalahan. Paro akhir April 2007, ribuan aparat keamanan merangsek kampung mereka. Seluruh rumah yang dijadikan ajang praktek pelacuran langsung disegel.
Saritem sunyi.
***
Kamis, 3 Mei 2007. Telepon selular saya berbunyi. Sebuah suara dari seberang sana mengabarkan bahwa Saritem sudah kembali beroperasi. Tak seluruhnya. Banyak orang yang masih mencemaskan situasi. Mereka yang nekat beroperasi lebih didorong oleh periuk nasi yang sudah lama berhenti mengepul.
Selama pascapenutupan, situasi Saritem memang mengharukan. “Untuk makan saja, kami harus datang ke dapur umum,” kata Hengki, warga Saritem yang berprofesi sebagai calo itu. Hengki tak sendirian. Banyak kawannya yang bernasib senada dan menggantungkan diri pada belas kasih warga yang masih punya uang.
Dapur umum dibuka di empat titik. Dua di RW 07, dua di RW 09. Mereka memilih mendirikan fasilitas tersebut ketimbang repot menempuh prosedur pengurusan dana santunan yang dijanjikan pemerintah. “Sampai hari ini tak jelas wujudnya,” kata Yayan Kristian, beberapa hari setelah razia besar itu berlangsung.
Walikota Dada Rosada, beberapa hari setelah menjalankan razia sempat melontarkan idenya untuk menyantuni warga Saritem yang tergusur ladang kerjanya. Ia menyilakan warga untuk mengajukan permohonan untuk memproleh apa yang disebut Rosada sebagai Dana Bawaku Makmur. “Bawaku” singkatan dari “Bantuan Wali Kota Khusus”.
Dana tersebut akan disalurkan kepada warga Saritem dalam bentuk bantuan uang tunai untuk menyangga kehidupan sehari-hari. Besarnya, berkisar Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu per orang setiap harinya. Program tersebut dianggarkan dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kota Bandung 2007 sebesar Rp 10,4 miliar. “Silakan ajukan, nanti kami survei kelayakannya ,” Ema Sumarna, Kepala Bagian Ekonomi Pemerintah Kota Bandung, memberi lampu hijau melalui pers.
Warga Saritem percaya dana tersebut dianggarkan, namun mereka tak yakin bisa memperolehnya secara cepat. Mereka tahu persis mesin birokrasi. Dan mereka tak keliru menilai: tak ada uang yang mengalir dari keran birokrasi, bahkan sekadar membelikan ikan asin dan sambal untuk melengkapi menu di dapur umum. [end]
* Versi cetak dimuat Jurnal Nasional Minggu Edisi 015 (6 - 12 Mei 2007)