Anthurium mengakhiri kemelaratannya. Apa yang membuat daun itu begitu bernilai hingga dihargai ratusan juta, bahkan miliaran rupiah? Benda seni atau epidemi kelatahan belaka?
Oleh Agus Sopian
Tiada penanda yang mewakili Dusun Gebung dalam peta, bahkan peta lokal sekalipun. Tempat itu memang tak sekelas kawasan Menteng atau Blok M di Jakarta. Ia hanyalah sebuah daerah terpencil di kaki lereng timur Gunung Lawu, tepatnya di Desa Katikan, Kedungalar, Ngawi, Jawa Timur.
Seperti dusun-dusun lain di sekitarnya, Gebung hampir tak pernah jadi subyek perbincangan untuk topik apapun. Tapi itu dulu. Kini, seolah menyimpan deposit emas bongkahan, orang berduyun-duyun ke sana, meski harus menempuh satu-satunya rute tak nyaman -- jalan desa sempit tak beraspal, penuh cekungan, dan sama sekali tak berlampu kala malam tiba. Mereka memang hendak mencari “emas yang lain”. Emas dalam bentuk lembaran daun. Anthurium.
Hariyanto, biasa disapa Hari, tiba-tiba saja jadi nama penting. Anthurium telah membebaskan dirinya dari kepompong kemiskinan. Ia kini warga terpandang di sana.Di rumahnya, di salah satu ujung jalan desa yang tak luas-luas amat, terparkir dua kendaraan roda empat miliknya untuk mobilitas sehari-hari. Sesekali beberapa truk sewaan menutup badan desa, tepat di depan sentra produksinya. Truk itu disewa untuk mengangkuti barang dagangannya ke berbagai daerah, terutama di Pulau Jawa. Dari Surabaya sampai Jakarta.
Sebagai orang kaya baru, ia tetap hidup sederhana. Paling tidak, Hari dan keluarganya masih tinggal di sebuah rumah yang hanya menelan lahan sekira 60 meter persegi -- sebuah rumah sederhana yang kusam dan jauh dari kesan modis.Ia sebenarnya bisa tinggal di rumah baru, sebuah loji yang telah dia sulap jadi semacam wisma. Bangunan ini berdiri di atas areal lahan sekira 120 meter persegi. Seluruh dindingnya terbuat dari kayu, dengan tiga kamar yang terbilang luas. Alasnya dihampari keramik mengkilap ukuran besar, dan selalu tampak bersih.
Hari justru memfungsikan lojinya untuk menerima tetamu dari luar daerah. Mereka terkadang diinapkan di sana. Hanya ini cara yang paling ia ketahui untuk memuliakan tamu. Di situ, mereka bisa bercengkrama dengan sejumlah pegawainya, dari pagi, sore, malam, hingga pagi lagi.
Halamannya yang luas digunakan untuk area transit bagi Anthuriumnya yang hendak diberangkatkan ke luar daerah, entah untuk suatu pameran atau kiriman rutin ke pelanggannya. Bale-balenya yang nyaman, terbuat dari kayu jati pilihan, digunakan sekaligus sebagai gardu jaga para asistennya.
Di sekitar loji, Hari membeli banyak lahan warga sekitar untuk kebunnya, termasuk lahan kuburan sinyo Belanda. Ia merawat kuburan itu dengan baik, dan selalu membersihkannya kapan waktu. Hari tak pernah mengenali jatidiri yang ditanam di dalamnya.
Di luar lahan yang telah dipetak-petak menjadi delapan kebun anthurium itu, Hari juga membeli hektaran lahan produktif di kampung lain. Sebagian sudah disulap jadi tanah pertanian, sebagian lagi menunggu sentuhan. Total jenderal, dengan semua kekayaan yang dimilikinya, tak ada alasan bagi Hari untuk mencemaskan situasi kelabu di hari depannya.
***
Jauh sebelum mengenal anthurium, Hari dibesarkan oleh masa-masa yang getir sejak lahir pada 3 Maret 1969 silam. Ia pengais bungsu dari sembilan bersaudara. Mereka, si sulung Sagi, diikuti Sadinem, Sunarni, Kimin, Sukidi, Atiek Sugiyanti, dan Lilik Setyadi. Hari anak delapan, sebelum bungsu Setiyono.
Ayah mereka, Sotaruno, hanyalah pegawai rendahan tanpa upah uang. Ia seorang Uceng atau Jogotirto, pamong desa setingkat Ulu Ulu yang bertugas mengatur pengairan. Honornya tanah bengkok, yang sama sekali tak bisa menghidupi keluarga, bahkan dirinya sendiri. Maka, di waktu-waktu luang, ia memburuh tani pada sejumlah orang kaya, selain membuat tepung daun akasia. Tepung ini lazim digunakan sebagai bahan dasar obat nyamuk bakar.
Jerih payah Sotaruno tetap tak mampu menutup kebutuhan keluarga. Tak ada pilihan bagi Kinem, istrinya, selain harus terjun bebas ikut mencari nafkah di sela-sela pekerjaan rumah dan merawat anak-anaknya. Kinem bergabung dengan ibu-ibu lain yang juga sama-sama bernasib papa untuk memburuh pada lahan baon (perkebunan) milik Perhutani Ngawi. Si kecil Hari acap menemani sang ibu, di dalam dan di luar rumah.
Hari sering diberi tugas untuk belanja kebutuhan harian ke warung terdekat. Ia juga mencuci piring, mencari air, menunggui nyala tungku api, ikut memasak.
Itu dari sang ibu. Tugas dari ayah lebih merepotkan lagi. Sejak usia 10 tahun, ia biasa dibangunkan ayahnya dinihari, sekitar pukul 02.00 atau 03.00. Dalam gelap, ia membawa bakul berisi tepung daun Akasia ke tengkulak di daerah Posluku, Kedungalar, yang berjarak sekira tujuh kilometer dari rumahnya.
Pukul 06.00 ia kembali ke rumah, dan bersiap ke sekolah. Ia belajar di Sekolah Dasar (SD) Negeri Jogorogo, sekira 16 kilometer dari rumahnya. Pada tahun-tahun awal, perjalanan itu ditempuh Hari dengan berjalan tanpa alas kaki. Beberapa tahun kemudian ayahnya punya rejeki hingga bisa membeli sepeda ontel.
Sepeda itu pula yang menemani Hari ke Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP) Jogorogo. Orang tuanya mulai bernafas agak lega saat Hari mendapatkan beasiswa Supersemar, salah satu model pembiayaan bagi murid tak mampu di zaman Orde Baru dulu. Beasiswa itu diperolehnya sejak kelas 1.
“Saya selalu mendapat rangking pertama,” kata Hari tentang prestasi belajarnya di SMP. Peringkat ini memberinya kehormatan untuk mewakili sekolahnya mengikuti berbagai ajang lomba kecerdasan siswa, termasuk “cerdas cermat”. Hari dan kelompoknya berkali-kali jadi juara. Tak hanya di level antarsekolah dalam lingkup desa atau kecamatan, tapi juga kabupaten untuk memperebutkan trofi juara tingkat provinsi.
Predikat bintang pelajar tak lantas membuat Hari jadi istimewa di keluarganya. Ia tetap wajib bangun dinihari dan mengulangi semua kegiatan yang dilakukannya sejak pertama kali akil baligh. Belakangan ia juga kebagian order untuk mencari daun-daun akasia ke Hutan Kalibening, yang berjarak sekira 15 kilometer dari rumahnya.
Jika stok daun dirasa cukup, Hari ikut mencangkuli lahan baon Perhutani itu.
Liburan akhir pekan digunakan Hari untuk mencari kayu bakar di hutan yang sama, tempat ia memetik daun akasia. Ia kumpulkan ranting-ranting pohon kering untuk disatuikatkan, kemudian dipikulnya dalam perjalanan belasan kilometer.
Irama rutin macam itu sama sekali tak menyisakan waktu bermain, selayaknya bocah lain di dusunnya -- entah sekadar bermain sepakbola dengan jeruk bali yang telah digarang api atau berenang di kali. Malam-malam, dalam lelah, ia sering melamunkan rejeki dari langit. Lamunan yang terkadang membuat kelopak matanya sembab.
***
Hari lulus SMP pada 1986. Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri di pusat kota Ngawi jadi pilihan berikutnya. Seperti saat SMP, beasiswa menyokong pendidikan Hari di sana. Dan seperti sebelumnya pula, ia masih bersepeda ontel dengan jarak yang kian bertambah. Jika sebelumnya 16 kilometer, sekarang ia harus mengayuh sekira 25 kilometer.
Untuk menaklukan jarak sejauh itu, ia biasa pergi subuh dan pulang sore. Terkadang perutnya kosong seharian, dan baru malam ia bisa bertemu nasi Sawut, makanan yang terbuat dari campuran beras dan parutan singkong.
Di hari lain, saat ekonomi keluarga benar-benar berada di titik nadir, Hari dan saudara-saudaranya hanya menyantap nasi Karang atau Aking, nasi pemberian tetangga yang dikeringkan lalu diolah lagi. Thiwul pun jadi sahabat karib perut mereka. Thiwul berasal dari ketela pohon yang dikupas, dibelah, dijemur sampai kering, lalu jadi gaplek, direndam dalam air selama 24 jam, diangkat, dijemur lagi kemudian ditumbuk hingga jadi tepung. Thiwul dengan kata lain adalah tepung singkong kasar yang dimasak.
Tak mudah dipahami dengan asupan gizi macam itu, Hari masih mampu menyandang predikat bintang kelas hingga lulus SPG. Kelulusan yang tak membuatnya seratus persen bahagia. Bayangan menganggur menggedor syarafnya kala pemerintah mengumumkan kebijakan baru bagi calon guru SD, bersamaan dengan penutupan seluruh SPG pada 1988. Calon guru SD sekurang-kurangnya diharuskan menyandang sertifikat kelulusan Diploma Dua (D2). Hari tak pernah membayangkan asal-asul biaya untuk kuliah. Lulus SPG saja sudah jadi prestasi luar biasa baginya.
Niatnya yang tebal untuk jadi guru memberinya tambahan tenaga untuk nekat pergi ke Surabaya. Dengan uang seadanya hasil memburuh, Hari mendaftar ke Institut Keguruan dan Pendidikan (IKIP) Negeri, yang sekarang menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Saat diterima, dengan cepat otaknya berputar untuk mencari biaya hidup. Ia memutuskan jadi loper suratkabar Birawa.
Rejeki loper tak mencukupi hidupnya. Jika korannya tak laku, ia habis-habisan mengirit. Dan seringnya begitu.
Hari kembali putar otak. Ia menemukan jalan lain untuk mendapatkan uang. Kini ia memberi les pada anak-anak orang kaya. Total ia mendapatkan 15 titik lokasi les tingkat sekolah dasar.
Ia menggunakan semua penghasilannya secara bijak. Makan sehari sekali. Baju cukup beberapa lembar saja. Tempat tinggal? Ia mengajak teman-temannya untuk patungan sebuah kamar. Maka -- bersama Katmono, Joko Santoso, Mali, Aris Wibowo, Puji Wuliyono dan Budi Winaryo -- Hari menempati petakan kamar sekira 3 x 4 meter persegi. Ia, seperti teman-temannya, bantingan Rp15 ribu per kepala saban bulannya. Mereka rela tidur berdempetan seperti ikan pindang.
Gerutuan paling banter terdengar sesekali, terutama pagi. Mereka harus rebutan mandi karena suplai air berhenti tepat pukul 10.00. Alhasil, mereka yang kesiangan, kehilangan jatah air untuk mandi. Jika esoknya kembali telat bangun, apes bisa sambung-menyambung. Hari sendiri merdeka sepenuhnya dari urusan macam itu. Ia terbiasa bangun sebelum ayam berkokok. Pukul 04.00, ia sudah mandi dengan air berlimpah.
Sehabis shalat subuh, ia pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari, utamanya makan. Ia memang kebagian jadi bendahara merangkap tukang belanja. Hari sering geli sendiri mengingat polahnya sebagai bendahara. Hampir setiap hari, ia mark up nilai belanjaan, dari Rp 300 menjadi Rp 400. Uang kelebihan ini ia simpan rapat-rapat. “Berani sumpah, bukan untuk keperluan pribadi,” katanya terkekeh-kekeh. Lalu?
Saban akhir pekan, Hari mengajak teman-temannya dolanan ke kota. Di sana, Hari mentraktir temannya makan minum, minimal semangkok baso, senilai Rp 100 per orang. Teman-temannya senang, walau sebelumnya tak pernah tahu bahwa uang itu adalah milik mereka sendiri hasil “korupsi mini” ala Hari.
***
Hari kembali ke Dusun Gebung pada 1992. Setahun kemudian, ia mendaftar jadi guru honorer di SD Negeri Kasiman di Bojonegoro dan diterima dengan upah Rp125 per bulan. Uang sebesar ini tak cukup untuk membiayai hidupnya, apalagi keluarganya. Sang ayah sudah mulai sakit-sakitan dan makin tua. Demikian juga sang ibu.
Tak ada jalan lain bagi Hari selain lagi-lagi membanting tulang. Beruntung koperasi di desanya mau memberi Hari pinjaman lunak. Dengan uang ini, ia mendapatkan sepeda motor kreditan. Motor inilah yang kelak memotori hidupnya.
Tiap pagi, sekira pukul 05.00, Hari keluar rumah dengan membawa bakul besar berisi jerigen ke pasar. Jerigen ditaruhnya di tengkulak oli dan bahan bakar minyak (BBM) untuk diisi. Ia melanjutkan perjalanannya menuju sekolah. Habis berganti baju dinas, ia masuk kelas.
Pulang sekolah, jerigen yang telah berisi oli dan BBM itu dijemputnya. Kedua mata dagangan ini, pada tingkat minimal, bisa menyangga perut keluarganya. Endemi defisit baru menyergapnya saat Hari memutuskan untuk menyunting sesosok bunga desa pada 1996. Perempuan nekat yang mau diajak melarat ini bernama Mariyani. Ia memberinya seorang anak perempuan, Maharratri Rany Phusphi Rumanti, pada 1997.
Sadar mulut yang harus disuapi Hari bertambah, ia melapis kekuatan ekonominya dengan menyewa sebidang tanah untuk dijadikan lahan pesawahan. Ia juga membuka toko kelontong kecil-kecilan yang menyediakan kebutuhan rumah tangga alakadarnya.
Dengan penghasilan dari berbagai jurusan itu, seharusnya Hari sudah mampu membiayai keluarganya. Garis nasib berkata lain. Sejak menikah, Hari keranjingan tanaman hias. Terkadang honornya sebagai guru ludes sama sekali untuk hobinya itu. Parahnya lagi, “nafkah psikologis” pun jarang Hari berikan pada istrinya. Saat malam tiba, Hari lebih memilih mencumbui tanamannya.
Pada titik ekstrem, kelakuan Hari bukan hanya menerbitkan bara api di lingkungan keluarga, tapi juga jadi topik pembicaraan sengit tetangganya. Hari dianggap kurang waras. Teman-temannya, yang meronda kampung, sering meneriakinya gila. “Istrimu keloni tuh,” ujar Aman Santoso, teman sepantarannya. “Saya memang hampir tak pernah ngeloni istri lagi,” Hari menimpali. “Bahkan saya hampir tak pernah tidur.”
Jangan harap siangnya Hari punya waktu untuk keluarga. Sehabis mengajar, Hari terkadang keluyuran mencari tanaman untuk tambahan koleksinya. Seringnya, ia nongkrong di Pasar Kasiman. Ia bersahabat Mbah Podo, seorang pria paro baya asal dari Tawangmangu.
“Ada yang baru Mbah,” Hari bertanya pada Si Mbah pada suatu siang, dalam bahasa Jawa halus.
“Ini saya bawa ‘Atrium’. Tapi mahal harganya.”
“Sekedap ya. Nanti saya carikan dulu uangnya,” Hari meminta waktu saat diberi tahu harganya Rp525 ribu untuk dua pohon ‘Atrium’ itu.
Sampai di rumah, tanaman yang sama sekali tak populer itu membayangi setiap langkahnya, seperti ia mengingat Mariyani di masa-masa pacaran. Ia berusaha mencari uang kesana-kemari, dan akhirnya kembali berakhir di koperasi di desanya. Ia dipinjami Rp 200 ribu. Setelah ditambahi uang honor dan simpanannya, Hari mendatangi Mbah Podo dan menanyakan tanaman itu.
Mbah Podo, menyanggupi niat Hari untuk membeli “Atrium”. Dari Tunas Jaya Sejati, sebuah nursery di Sragen, Mbah Podo mendatangkan pesanan Hari, yang belakangan ini dikenal sebagai “Anthurium” dan kini menjadi emas hijau bagi ribuan petani di Jawa Tengah.
Anthurium, berdasar sejumlah literatur, mengacu pada tanaman berdaun tebal, yang secara harfiah diartikan sebagai “tanaman bunga ekor pendek”. Nama Anthurium dibangun dari tiga suku kata dalam bahasa Yunani: anthos (bunga), aura (ekor) dan ion (ukuran kecil).
Bunga Anthurium di kalangan penggemarnya lazim disebut tongkol. Satu pohon Anthurium induk, yang telah berumur cukup tua, bisa menghasilkan empat atau lima tongkol. Satu tongkol, bisa berbuah 5.000 – 10 ribu biji.
Anthurium termasuk tanaman berstamina tinggi. Ia bisa tumbuh di mana saja, asal memiliki kelembaban yang cukup. Pohon Anthurium, sebagaimana di negeri asalnya -- kawasan tropis Amerika Tengah dan Amerika Selatan -- memerlukan kelembaban nisbi 60-90. Kelembaban ini, secara sempurna ditemukan di daerah sekitar lereng Gunung Lawu, mulai Karanganyar, Magetan, hingga Ngawi.
***
Tanaman hias koleksi Hari sudah besar-besar dan siap menghasilkan uang. Maka, pada 2000, ia mulai berbisnis tanaman. Bisnis ini memberinya julukan baru. Orang-orang di dusunnya, dari petani hingga tukang ojek, menyebut dia “Hari Kembang”.
Tak ada perubahan berarti. Tanaman itu tak memberinya kecukupan hidup. Anthurium yang sudah melahirkan ribuan benih dan jadi pohon-pohon remaja, sampai tahun 2002 hanya laku Rp10 ribu per pohon. Praktis, Hari tetap bersandar pada bisnis oli dan BBM, honor guru, juga kios kecil di depan rumahnya.
Sebagian di antaranya ia sisihkan untuk merajut mimpinya mendapatkan gelar master akademik. Ia mengikuti Strata Dua (S2) di Universitas Islam Malang, Jawa Timur, sekira 45 kilometer dari tempat tinggalnya.
Belum setahun setelah mendaftar S2, Hari merasakan adanya gejolak dalam bisnis Anthurium. Pemasukannya mulai bertambah. Bersamaan dengan tuntasnya S2 hingga Hari berhak atas gelar master dalam ilmu pendidikan, bisnis Anthurium bergolak. Jalan desa menuju dusunnya tiba-tiba lebih sibuk dari biasanya. Pembeli dari berbagai kelas sosial datang dengan beragam moda kendaraan, mulai ojek, mobil carteran hingga kendaraan pribadi dan dinas.
Penduduk di sekitar kediaman Hari terperangah. Dalam tempo cepat, wabah Anthurium menyebar ke seantero kampung, dusun, kecamatan dan seterusnya. Banyak orang sedusunnya membeli bibit dari Hari dan mulai mengadu peruntungan.
Gelombang pembeli itu direspon Hari dengan tangkas. Ia keluar dari Dusun Gebung untuk mencari spesies dan varian lain guna melengkapi koleksinya, sekaligus memperbanyak kultivar. Spesies Hokeri dan Jenmanii segera masuk kebunnya untuk dibiakkan. Jenmanii, dengan beragam variannya, adalah sumber kekayaan luar biasa bagi banyak petani. Satu induk bisa berharga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Bahkan Yoe Kok Siong, pemilik Kaliurang Garden Center, di Yogyakarta, sempat membandrol varian Jenmanii Supernova hingga seharga Rp1 miliar.
Hari sendiri tak silau mata oleh itu. Ia tetap memainkan Gelombang Cinta, dan belakangan Hokeri. Pancaragam kultivar dan varian, ia hasilkan dari dua tanaman yang menjadi trade mark-nya selama ini. Dari Gelombang Cinta, ia melahirkan varian Jagger, Brassiliano, dan King. Dari Hokeri lebih banyak lagi. Beberapa di antaranya adalah Red Devise, Red Cobra, Dark Green, Pagoda, Silver Green, Supernova, Twister, Garuda Beauty, Lemon, Varigata, Green Cobra, Black Cobra, dan seterusnya.
Varian-varian tersebut mengokohkan namanya menjadi pemain besar dalam agrobisnis Anthurium. Itu pula yang membawa namanya menanjak, sekaligus jadi langganan juara sejumlah kontes tanaman hias, terutama di Jawa Timur.
Rejeki yang berlimpah tak membuat diri Hari lupa diri. Ia tetap fokus pada cita-citanya untuk mengejar Strata Tiga (S3). Ia mendaftar di Universitas Merdeka Malang, dengan mengambil ilmu sosial. Hendak pindah profesi dari guru? “Tidak. Saya tak akan menghianati guru,” kata Hari, sebagaimana ditirukan Wisnu Purbo, asisten Hari. Menurut Wisnu, Hari mungkin akan mencatatkan diri di Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai guru SD bergelar doktor.
Kegiatan kuliah Hari menyita banyak waktunya. Terkadang ia tiba di rumah menjelang larut malam. Namun, ia masih tetap dapat mengontrol seluruh aktivitas bisnisnya melalui telepon genggam. Ia tangkas menjawab pertanyaan pelanggan atau siapa saja, baik dengan melalui short message service (SMS) atau percakapan langsung. Lebih-lebih setelah nomornya ia taruh pada seluruh iklan display di berbagai media massa.
Menjelang tidur, ia menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan orang-orangnya yang meronda di depan loji. Selebihnya, ia memantau seluruh kebunnya via CCTV (closed-circuit television) yang dipasang di depan rumahnya, menempati ruang kecil bekas kios oli. Perangkat ini memonitor sedikitnya 16 titik di kebun-kebunnya. Hari tak tahu berapa nilai perangkat itu. Ia mendapatkannya dari barter dengan Anthuriumnya.
Medio 2007, sebagai salah satu pemain besar, Hari makin kelimpahan uang. Pada Juli misalkan, ia pernah mendapatkan penghasilan puluhan juta per hari. Dan ini bukan klimaks. Momentum paling berkesan justru lahir sebulan kemudian. Pada 3 Agustus 2007, seorang pengusaha asal Semarang mendatangi rumahnya. Ia Cik Lin, seorang kolektor Anthurium terkemuka.
Cik Lin tertarik pada Anthurium Hokerii Supernova milik Hari. Tawar-menawar berlangsung. Mereka sepakat Rp265 juta. Cik Lin menyerahkan Panther Touring dan menghargainya Rp205 juta. Sisanya, 60 juta ia bayar tunai. Dengan tangan gemetar, Hari menerima satu kresek uang, yang telah diikat karet gelang satu per satu dengan rapi. Ia tak sanggup menghitungnya. Bola matanya berkaca-kaca. Semalaman ia menunaikan sujud syukur kepada Sang Khalik.
***
Humidity meter menunjukkan angka kelembaban 81, dengan suhu 24ÂșC. Akhir Maret 2008, langit di atas Ngawi terlihat cerah, angin berembus pelan mencumbui bibit-bibit Anthurium di halaman loji milik Hari. Semuanya tertata rapi. Sebagian masih berkumpul dalam kotak stirofom, sebagian lagi sudah diberi starter pot. Beberapa kultivar dan varian baru belum lagi diberi nama.
“Panjenengan mau sumbang nama?” Hari bertanya. Saya hanya menggelengkan kepala. Selebihnya, mengkritik nama “tembakau” untuk salah satu varian yang hendak diluncurkan di Surabaya. Saya memendam argumentasi kritik itu di dalam hati, bahwa seperti juga julukan untuk varian Jenmanii Sawi, Nangka, atau Kol Buntut, kosakata “tembakau” mengambil-alih entitas tanaman lain secara semena-mena, seolah-olah kita sedang berada di ambang krisis simbol bahasa.
“Mungkin bisa dicarikan nama lain,” kata saya, seraya terus mengamati tiap nama yang diterakan pada bibit-bibit Anthurium itu. Seluruh bibit sedang disiapkan untuk mengikuti sejumlah pameran. Tiga di Jakarta, satu di Surabaya. Hari memang punya gairah tinggi untuk terus mengikuti pameran. Dalam sebulan, Hari bisa mengikuti dua atau tiga pameran. Pada awal April 2008 saja, Hari mengirimkan tiga truk untuk tiga daerah di Jakarta: Depok, Cibubur dan Taman Mini.
Di ajang pameran, juga kontes tanaman hias, nama Hari berkibar bersama bendera perusahaannya, Maharani Garden.
Sampai sejauh ini, pendapatan Hari dari pameran termasuk yang tertinggi. Di Senayan Jakarta, misalkan, walau harus bersaing dengan sedikitnya 400 stand, Hari berhasil mengeruk pemasukan lebih dari Rp100 juta dalam sepuluh hari. Sebanyak Rp80 juta di antaranya uang tunai.
Menurut Wisnu Purbo, koordinator pameran Hari untuk Senayan, andai saja pihaknya mendapatkan lokasi stand yang strategis, pemasukan bisa digenjot lebih tinggi lagi. “Kami datang sedikit telat. Stand di baris depan sudah habis.” Maharani Garden akhirnya kebagian stand bernomor 300-an, dengan harga Rp4 juta. Masih untung, kata Wisnu lagi, stand bernomor buncit itu tak membuatnya jeblok. Alih-alih demikian, pemasukan Maharani Garden masih sanggup melampaui target.
Bukan perkara mudah untuk memperoleh omzet sebesar itu. Tren pasar memperlihatkan adanya gejala kelesuan dalam beberapa bulan terakhir ini. Saturasi dimulai sejak booming Anthurium mencapai klimaksnya di bulan Nopember 2007 lalu.
Di masa penuh gejolak, yang mulai berlangsung sejak Juli 2007, semua tampak indah. Bisnis Anthurium berkilau laksana berlian 24 karat. Orang dari berbagai kalangan masuk ke dalamnya. Adjie, pengusaha material bangunan di Salatiga, menaruh sekira Rp200 juta untuk pemburuan induk dan bibit berkualitas. Ginting Sri Kusmayadi, pengusaha furnitur di Solo, banting setir ke Anthurium. Bayan Tarso, pamong desa di Karanganyar, melupakan dulu bisnis kendaraannya sebagai makelar. Ia total terjun ke Anthurium dan dari sana ekonominya beranjak naik. Ia bahkan bisa mengupah sampai 100 orang untuk berbagai pekerjaan, mulai renovasi rumah hingga membangun fasilitas sentra produksi Anthurium.
Transaksi-traksasi heboh terdengar di sana-sini. Varian Gelombang Cinta Air Mata Bunda milik Rina Iriani, bupati Karanganyar, tembus sampai Rp500 juta lebih ketika berlangsung pameran Anthurium di Lapangan Banteng, Jakarta, pada 2007. “Itu setelah saya ganti namanya,” kata Iriani dalam suatu perbincangan di kediamannya, di Karanganyar. “Air Mata Bunda” mengacu pada Anthurium yang suka mengeluarkan air saban pagi atau sore. Bukan sesuatu yang ajaib, sebenarnya. Air yang keluar di lekukan pinggiran daun, sesungguhnya gejala biasa akibat banyaknya kandungan air. Dunia botani menyebut hal itu sebagai “gatusi”.
Iriani tak tertarik dengan nama itu. Ia memberikan nama baru untuk Anthurium yang memiliki gejala gatusi itu dengan nama baru: “Tirtowulung”. Nama baru yang memberinya hoki luar biasa.
Gejolak transaksi makin tak tertahankan. Demand tak lagi sebanding dengan supply. Pamor Anthurium menanjak hingga mencapai harga yang nyaris tak bisa diterima akal sehat. “Jenmanii Supernova bisa seharga Kijang Inova,” kata Rina Iriani dalam nada bercanda.
Tak hanya seharga Inova sesungguhnya, tapi bahkan Jaguar, BMW atau sebut mobil mewah lainnya. Santer tersiar kabar, di Desa Nglurah, Tawangmangu, pengusaha Wijaya asal Bali, membeli satu pohon varian Anthurium Jenmanii senilai Rp 1,4 miliar. Di Yogyakarta, pengusaha rokok Bambang merogoh Rp1,5 miliar untuk satu pohon varian yang hampir sama. Di Solo, kebun Ginting Sri Kusmadi, yang dikonsep hingga sekelas “galeri”, ditawar Rp4 miliar.
***
Magnet bisnis Anthurium terus melebar, dan menyedot pesona siapa saja. Di Lereng Gunung Lawu, Anthurium menjadi kendaraan bisnis banyak orang untuk menjelajahi impian terdalam mereka. Kandang-kandang domba atau kerbau belakangan berubah jadi kandang-kandang Anthurium. Tak sedikit orang menjual binatang peliharaannya demi mendapatkan induk bermutu untuk pembibitan.
Di Karanganyar saja, sedikitnya terdapat 1.200 petani yang ikut bermain. Data ini tereksplorasi dari catatan pemerintah setempat, yang membulatkan tekad untuk membina mereka secara intens. Ekstensifikasi ini memberi Karanganyar julukan baru: Kabupaten Anthurium.
Bupati Karanganyar Rina Iriani mengungkapkan, Anthurium telah mengubah nasib banyak petani di desanya. “Orang naik haji hampir seluruhnya dari jualan daun, ” kata Rina. “Daun” yang dia maksud merujuk pada pohon Anthurium.
Iriani juga memberi data lain untuk melukiskan kemajuan daerahnya dalam beberapa tahun ini. Menurut dia, terdapat beberapa indikator yang menunjukkan peningkatan ekonomi warga. Salah satunya peningkatan pendapatan per kapita. Jika tahun 2003 pendapatan itu Rp3 juta per kepala, pada 2007 naik menjadi Rp7 juta. Kepemilikan kendaraan bermotor pun menurut Rina, meningkat secara signifikan. Di Karanganyar sekarang, sedikitnya terdapat 1.900 roda empat atau naik sekitar 1.000 dalam tiga tahun terakhir.
Itu yang tercatat. Rina sendiri skeptis dengan jumlah itu. Dalam perkiraan dia, jumlah kepemilikan bisa lebih tinggi dari catatan resmi, mengingat dealer-dealer kendaraan bermotor di Jawa Timur belakangan jauh lebih mengunggulkan Karanganyar ketimbang Solo, yang semula dianggap garda bisnis terdepan kendaraan bermotor di selatan Jawa Tengah. “Di sini sudah biasa orang meninggalkan motor atau mobil untuk ditukar daun,” kata Rina lagi. Kendaraan-kendaraan begini belum lagi terdata secara keseluruhan.
Apapun, geliat agrobisnis Anthurium di Karanganyar dan sekitarnya bukannya tak mendatangkan resiko. Di banyak lereng Gunung Lawu, habitat pakis bisa dibilang berantakan. Orang menebang semau-maunya untuk dijadikan media Anthurium.
Pakis memang dapat dikatakan sebagai salah satu media paling porus untuk tanaman Anthurium. Porus adalah istilah para petani Anthurium untuk mengatakan terjaganya sistem drainase air serta sirkulasi udara di sekitar akar. Pakis dapat segera membuang air yang dituangkan ke dalam pot, sehingga ancaman busuk akar dapat terhindarkan.
Kecenderungan penggunaan pakis secara massif itulah yang antara lain diduga menjadi penyebab utama longsor di daerah Karanganyar. Episentrum bencana ini, yang berlangsung akhir 2007, berada di Dusun Mogol, Desa Ledoksari, Tawangmangu, Karanganyar, salah satu sentra produksi Anthurium. Puluhan Anthurium Jenmanii bernilai miliaran rupiah tertimbun longsor. Ratusan rumah terkubur, 37 orang tewas.
Hari sejak lama sadar, persediaan pakis lambat laun akan menipis dan habis sebelum peremajaan dimulai. Itu sebabnya, Hari memilih untuk menghindari media tersebut. Ia mengembangkan sendiri media Anthurium, yang kesemuanya berasal dari sampah pertanian.
Sampah itu didominasi oleh batang dan kulit kedelai, yang dicampur sekam. Sebagian sekam di antaranya dibakar dulu. Ke dalam adonan tersebut, Hari menambahkan tahi domba dalam presentase yang kecil. Seluruhnya diolah sedemikian rupa sehingga bisa menjadi media yang tak kalah porus dari pakis.
Pengolahan berlangsung secara manual. Untuk mendapatkan fermentasi yang cukup, Hari menimbun campuran tersebut selama beberapa hari, setelah sebelumnya diberi fungisida secukupnya. Di salah satu kebunnya, terdapat onggokan-onggokan bakal media tanam yang berasal dari beberapa truk material dasar.
Penolakan Hari terhadap media pakis memberi berkah tersendiri. Ia makin piawai mengolah media buatannya, dengan tingkat kesehatan prima pada seluruh tanamannya. Pertumbuhannya pun terbilang jauh lebih cepat, dan lebih dari itu medianya dapat didaur ulang dengan mudah. Hari tahu, media tersebut kelak akan memberi nilai ekonomis pada pendapatannya di hari depan.
***
Sebuah iklan terbaca di tabloid tanaman hias Hobiku edisi awal Mei 2008. Tertulis di sana, sebatang pohon induk anthurium varian Jenmanii Supernova dijual Rp375 juta. Awal Maret 2008, pohon yang sama -- sekurang-kurangnya panjang daun berkisar 130 cm dengan kisaran usia antara 12-13 tahun -- dibandrol seharga Rp525 juta.
Perjalanan harga itu segera memberi megafon terhadap rumor yang berkembang dalam tiga bulan terakhir ini, bahwa harga anthurium sedang mengalami penurunan dramatis. Indikator penurunan antara lain terlihat pula dari harga biji, yang galib disebut “OC”. Harga OC varian Jenmanii Supernova, yang gila-gilaan dalam kurun Juli – Nopember 2007 itu, misalkan, kini paling banter hanya sekira Rp50-70 ribu per biji.
Saturasi paling mengharukan diderita para petani anthurium spesies Gelombang Cinta (Wave of Love). Kini harga indukannya terjun bebas ke kisaran Rp30-40 juta. Sejumlah pedagang yang cemas malahan tak keberatan melepasnya di bawah harga tersebut hingga kisaran Rp10-15 juta. Dulu, setidaknya sekira enam bulan ke belakang, harga induk Gelombang Cinta bisa mencapai Rp200 – 300 juta.
Antiklimaks dimulai Desember 2007, yang sekaligus menandai berakhirnya pesta besar. Beberapa petani, sebagaimana dapat dilihat dalam berbagai media yang memantau seluk-beluk tanaman hias, ramai-ramai melelang barangnya.
Banyak yang mengatakan, bisnis Anthurium hingga sejauh ini cenderung berada di “pasar semu”. Dari analisa sementara, transaksi gila-gilaan di masa booming itu cenderung berkisar di antara pedagang, kolektor dan kolekdol. Istilah yang disebut terakhir mengacu pada mereka yang mengoleksi sebentar, lalu “didol” alias dijual lagi. Dunia seni biasa menyebutnya situasi “goreng-menggoreng”. Harga diolah sedemikian rupa hingga melahirkan sentimen pasar yang sensitif.
“Harus ada standarisasi,” kata Bona Ventura Sulistiyana, ketua Komunitas Anthurium Indonesia (KAI), dalam suatu rapat di Solo, Maret 2008. Rapat yang digelar malam hari ini, berlangsung di Flora Flori Garden, sentra produksi milik Ginting Sri Kusmayadi, anggota dewan pakar komunitas tadi.
Wacana untuk mengupayakan standarisasi harga bukan kali itu saja mereka bicarakan. Dalam berbagai kegiatan yang digelar KAI, wacana tadi terus dihembuskan. Apa boleh buat, imbauan KAI tenggelam di antara rimbunnya pohon-pohon Anthurium.
Bagi sebagian pedagang, standarisasi merupakan hal yang irrelevan dalam bisnis Anthurium. Lebih dari semata komoditas bisnis, Anthurium dinilai sebagai benda seni. Tak sedikit suara yang mendukung penilaian tersebut, sungguhpun sebagai benda seni, Anthurium sama sekali tak memiliki basis filsafat yang ajeg, genealogi, juga apa yang disebut Russell Ferguson sebagai “cultural politics of difference” -- suatu sikap kreatif untuk menimbang secara kritis benda-benda atau pemikiran seni.
Di pihak lain, banyak pihak yang merasa tak harus mendengarkan suara KAI, yang notabene tak bisa merepresentasikan petani, pedagang pun penggemar Anthurium di Indonesia. Data sampai Mei 2008 memang memperlihatkan anggota KAI kebanyakan tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sangat sedikit yang berada di Bandung, Jakarta, apalagi wilayah lain di Pulau Jawa.
Bisa dipahami bila suara KAI di daerah-daerah yang disebut terakhir nyaris tak bergaung. Jadinya beragam kontes dan aktivitas bisnis Anthurium berpulang pada individu-individu. Dari sini saja, sangatlah masuk akal kalau imbauan standarisasi harga, hampir tak pernah menemukan muaranya.
Hari punya cara lain untuk mengatasi kerasnya bisnis ini. Ia lebih banyak mendidik konsumennya untuk mencintai tanaman ketimbang membius mereka dengan mimpi-mimpi untuk menjadi kaya dengan Anthurium. Misi ini memerlukan visi manajemen yang lebih cair, dengan mengasumsikan perusahaannya sebagai payung dari suatu kumpulan keluarga besar.
Hari menempatkan asisten, karyawan, pelanggan, atau malahan pembeli sambil lalu, sebagai stakeholder Maharani Garden. Mereka satu keluarga. Bisa dipahami jika Hari melepas bibit Hokerinya seharga Rp10 ribu kepada para pemula Anthurium. Ia bahkan rela diutangi. “Uang belakangan. Transfer aja,” ujar Parno, salah seorang asisten Hari, kepada salah seorang pembeli dalam suatu pameran di Jakarta, dalam nada ramah. Pembeli itu sama sekali bukan pelanggannya. Ia bahkan baru dikenal.
“Maharani itu bukan perusahaan. Hanya bakulan kembang,” demikian Hari mewanti-wanti karyawannya untuk tak kaku dalam proses negosiasi harga. Cara ini efektif. Pelanggan Hari terus bertambah dari hari ke hari. Pada saat yang sama, kecintaan Hari pada tanaman menular ke berbagai pihak yang sempat bersentuhan dengan dirinya. Yudi, sopir pribadi Hari, misalnya, merawat sdikitnya 400 bibit Anthurium. Belum ada bayangan apakah itu akan menjadi benteng ekonominya di masa depan atau tidak. Sementara ini ia hanya ingin merawat dan membesarkannya.
Di mata Hari, kecintaan pada tanaman perlu disebarluaskan. Sampai sejauh ini, menurut Hari, bisnisnya tumbuh besar lebih sebagai ekor kecintaannya -- suatu kecintaan yang mendatangkan berkah. Itu sebabnya, Hari tak mencemaskan betul jika kelak bisnis Anthurium merosot ke titik paling parah hingga sama sekali tak bernilai bisnis.
“Saya akan terus mencintai tanaman,” katanya. Kecintaan ini pula agaknya yang mengerem nafsu Hari ketika orang menawari Rp100 juta untuk Anthurium Gelombang Cinta yang dia dapat dari Mbah Podo dulu. “Ini sejarah. Tidak dijual,” katanya sambil menunjuk dua batang pohon di salah satu pojokan kebunnya di belakang rumah. Kedua Anthurium tua itu menempati pot yang terbuat dari drum bekas, dengan cat yang sudah melepuh di sana-sini.
***
Jakarta, Mei 2008. Sebuah pameran berlangsung di Padepokan Silat di kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Maharani Garden hadir di sana, menempati stand mahal tepat di pintu masuk. Sejak hari pertama, Wisnu dan Parno, yang mengoordinasikan pameran tadi, terlihat sibuk menata pajangan seraya menemani calon pembeli yang bertanya ini-itu. Mereka melayaninya dengan tekun dan sabar.
Ada yang tak biasa dalam pameran Maharani Garden kali ini. Mereka tak hanya memamerkan pohon-pohon Anthurium, dari bibitan sampai remaja. Mereka juga membawa sejumlah karung yang berisikan media tanaman. Media tersebut langsung didatangkan dari Ngawi, dan diberi label “Maharani Garden”. Dalam setiap kemasan tertulis, bahwa media tanaman ini cocok untuk hampir semua tanaman hias: mulai Philodendron, Aglaonema hingga Anthurium.
Sepekan sesudahnya, saya tak melihat lagi gunungan media tanaman tadi. Orang berebut membelinya. Pisau bisnis terbaru Hari mulai menikam.
Edisi cetak di majalah Arti edisi 001 | Juni 2008.
Subscribe to:
Posts (Atom)